Rabu, 17 Juni 2015

Garuda di Dadaku (2009)


Garuda di Dadaku(2009)

Produksi = Sinemart





Bayu(Emir Mahira) adalah anak seorang supir taksi yang tadinya adalah pemain sepakbola, Ali. Dia pensiun dini karena cedera, dan kini sudah meninggal karena kecelakaan. Darah bermain sepakbola itu mengalir dalam dirinya. Dia baru berumur 12 tahun, tetapi bakat bermain bola nya sungguh tidak main-main. Dia sering bermain sepakbola bersama teman-teman kampungnya di lapangan bulutangkis di dekat rumahnya. Suatu hari, skill Bayu diketahui pelatih SSB ternama, SSB Arsenal, Pak Johan(Ari Sihasale) pelatih SSB itu memberi Bayu kesempatan itu masuk dalam sekolah sepakbolanya. Teman Bayu, Heri(Aldo Tansani), yang sangat suka Arsenal langsung meng-iyakan tawaran Pak Johan itu, padahal Bayu belum meng-iyakan, ternyata Bayu memiliki satu masalah yaitu kakeknya, Pak Utsman(Ikranagara), yang tidak suka Bayu bermain sepakbola, ia merasa trauma perihal anaknya, yang merantau ke Jakarta untuk bisa menjadi pemain sepakbola profesional, yang kemudian cedera, dan akhirnya pensiun dini, dan akhirnya meninggal sebagai supir taksi. Kakeknya berkilah, buat apa jadi pemain bola? Kerja kok nendangin bola, beliau ingin Bayu menjadi pegawai pertamina selayaknya dirinya. Tapi, Bayu tak patah arang, dengan bantuan Heri, Bayu bisa masuk SSB Arsenal degan kelas beasiswa. Heri yang berada di kursi roda berharap Bayu bisa mewakili dirinya bermain diatas lapangan, Heri lah sosok kesuksesan Bayu di masa datang.

Bayu, berlatih di SSB secara diam-diam agar tidak diketahui kakeknya, beberapa kali Bayu sempat membohongi kakeknya. Hingga suatu saat, SSB nya mencari anak berbakat untuk bisa masuk seleksi tim nasional U-13, seperti harapannya tentu Bayu sangat antusias mendengarnya. Bayu pun berusaha latihan di luar jadwal nya seperti biasa, tapi banyak cegatan yang menghampiri Bayu, ia terhalang oleh les-lesnya yang begitu banyak. Hingga suatu saat, bayu, mencari lapangan yang cocok untuknya berlatih, setelah muter-muter Jakarta, akhirnya ia menemukannya, yaitu kuburan mati. Diantara nisan-nisan ia bisa berlatih men-dribbling bola, diantara nisan itu pula ia berusaha menyetak gol, ibarat dua nisan itu gawang. Tetapi, ia tidak gratis latihan disana, penjaga kuburan itu sakit-sakitan, sehingga Bayu, Heri, dan supir Heri yaitu Bang Dulloh(Ramzi) harus membersihkan kuburan sehabis latihan. 

Suatu saat, Bayu langsung ke kuburan sehabis les lukis, ia masih membawa kanvas lukisnya yang belum selesai, Zahra(Marsha Aruan), anak penjaga kuburan yang ternyata pintar melukis, mencoret-coret lukisan Bayu, Bayu yang melihatnya seketika marah besar pada Zahra, ia membawa pulang lukisannya dengan hati-hati agar tidak ketahuan kakeknya, tapi tetap saja, Pak Utsman tetap tahu. Tapi, reaksinya berbeda, ia takjub dengan lukisan cucunya, yang menurutnya sungguh luar biasa. Dan, itu membuat Pak utsman menyetop les-les Bayu dan hanya fokus pada les lukis, bayu sangat bersyukur, karena dengan begitu ia bisa lebih fokus berlatih. Namun, kakeknya pun tidak tanggung-tanggung, ia langsung memasukkan Bayu ke sanggar lukis yang sangat bagus, sampai suatu hari jadwal seleksi nya bertepatan dengan jadwal les lukis. Pak Utsman yang mancari Bayu dirumah tidak ada, kemudian ke kuburan. Di kuburan dia melihat lukisan-lukisan yang ia pikir karya tangan Bayu menggantung di rumah penjaga kuburan. Dari situ, dia tahu Bayu masuk SSB tanpa sepengetahuan dirinya. Langsung saja pak Utsman pergi ke sekolah sepakbola tempat Bayu berlatih, ia bergegas masuk ke lapangan, saat itu tepat dengan Bayu yang dipanggil sebagai pemain terakhir yang masuk seleksi lanjutan tim nasional. Seketika, Pak Utsman terhuyung dan jatuh, orang-orang disekitarnya langsung membopongnya menuju rumah sakit. 

Disitu, Bayu menyerah, ia merasa bersalah karena terus membohongi kakeknya. Bayu membuang semua atribut bola yang ia punya. Heri, terus memotivasi Bayu, tapi Bayu tidak menerimanya, ia butuh waktu untuk merenungi semuanya. Sedangkan itu, kakeknya yang sedang di rawat di rumah sakit, sudah mendengar semua ihwal Bayu, dari ibu nya, Wahyuni(Maudy Koesnaedi). Bayu yang hari itu menjenguk kakeknya, merasa amat bersalah. Tetapi, reaksi berbeda di tunjukkan kakeknya, setelah mendengar impian-impian Bayu yang telah ia rajut sejauh ini, Pak Utsman mengizinkan Bayu melanjutkan impiannya, tapi Bayu yang sudah menyerah duluan, merasa dirinya tidak punya kesempatan lagi untuk itu. Seleksi tinggal esok, tetapi ia tidak pernah masuk latihan, akhirnya dengan motivasi dari kakeknya, ia kembali bersemangat. Sementara itu, di rumah Heri, ia telah menyiapkan hadiah untuk Bayu yaitu sepatu bola dari Belanda, ia kecewa Bayu menolaknya, saat sedang menimang sepatu itu, samar-samar ia melihat Bayu mengayunkan tangannya di depan jendela rumahnya. Singkat cerita, Bayu, Heri, dan Bang Dulloh menemui Pak Johan, setelah berdiskusi alot dengannya, akhirnya Bayu diperbolehkan ikut seleksi lanjutan. Setelah mendapat semangat dari kakeknya, Bayu merasa mendapat suntikan semangat yang pernah pupus dulu. Sehingga ia bisa mewujudkan mimpinya, bermain di Gelora Bung Karno, mengenakan lambang garuda di dadanya, bermain untuk negaranya. Dreams Come True.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar